Posts tagged kita
C4H on Easter
0Berita ini sudah saya confirm dengan mengecek FB dan wall dari yang bersangkutan.
Mohon bantuannya untuk sesama.
———————————————————
Sory ganggu waktu nya, ini teman saya yg bekerja sbg Sales Honda Imora di P.Jayakarta yg bernama Christymoer. Ini beneran bkn penipuan bisa di cek langsung ke kantor nya ataw ke RS Husada, dia baru bekerja selama 1 bln dan mjd tulang punggung keluarga.
Saat ini dia sgt butuh doa (apapun agama kalian) dan bantuan dananya dr kita semua. Kejadian nya hr Kamis sore sekitar pukul 17.00 kecelakaan di jl. P.Jayakarta mau buru2x pulang utk pelayanan gereja ( kamis putih ) di tabrak oleh mobil, keadaanya parah sekali terutama bagian kepala nya ,
Tim dokter sdh menjalani operasi tahap 1 krn pendarahan hebat di otak dan hasil nya jam 4 sore ini. Kalaupun lewat masa kritis nya selama 1 bln dia hrs minum obt n vit seharga 2 jtan dan utk biaya operasi butuh krg lbh 100jt an, sekarang ini telah menjalani operasi tahap awal dan dirawat di ICU rumah sakit Husada dalam keadaan tidak sadar (koma).
Jika tergerak hatinya mohon bantuan dana ditransfer ke BCA a/c : 6430074669 a/n : James Tone ( Adik Cristymoer ) Hp: 081310155554.
Skrg ini Papanya juga terbaring sakit di rumah karena sakit ginjal dan komplikasi.
Berapapun yg kalian sumbang, namun akan sangat membantu utk Christ dan kluarganya. Membantu org tanpa pamrih sangat lah baik pahala nya utk keluarga kita.
Ini Foto nya: http://bit.ly/fR61dN
Tuhan yang akan membalas semua kebaikan kalian, ini lah saat nya utk kita berbuat kebaikan demi hidup kita juga, Cristymoer dan keluarga nya.
Ini fb christimoer:
http://m.facebook.com/reom.ytsirhc?refid=0&_ft_a=1113272320&_ft_tf=1837349347779&_ft_tpi=1661856795&_ft_ti=100&_ft_time_ft=1303484333&_ft_mf_objid=1661856795
Mohon doa nya yah agar Christimoer cpt sembuh dan kembali bekerja. Tolong kalau tdk keberataan utk membroadcast pesan ini ke semua contact bbm kalian semua, tdk ada salah nya utk membantu org yg lg kesusahan. Secara tdk lgs kita sudah menabur benih kebaikan, terima kasih..
kalah
0Tulisan ini diambil dari sini: http://itonesia.com/kalah/
Apakah hidup “kita” memang sekadar menunda kekalahan, pastinya aku ingin bertanya kepada Chairil. Tetapi di malam sunyi pekuburan Karet ini, dingin angin menusuk tulang untuk bangkit dari liang lahat. Tanyaku direnggut angin yang membawanya mengitari langit Jakarta, menyapa setiap mereka yang bangun dan tidur. Menelusup dalam kesadaran dan mimpi. Diam-diam memakzulkan setiap keinginan baik yang tidak kunjung sempat menyapa mentari pagi. Beginilah persoalan yang kita hadapi sekarang, kekalahan adalah rutinitas dan bukan sekedar sesuatu yang tertunda. Kemenangan menjadi langka, hingga kita tidak pernah tahu lagi wujudnya. Dan ketika kemenangan muncul, kita menyikapi layaknya orang-orang yang kalah.
Hidup tidak selamanya persoalan kalah dan menang. Tetapi kenyataannya memang demikian. Angka-angka, peringkat, penghargaan dan bahkan bonus mengucilkan manusia pada nasibnya masing-masing. Kita sampai tidak menemukan harga yang tepat pada setiap kekalahan dan kemenangan. Kita jadi tidak mengerti apakah perayaan pantas untuk kemenangan atau malah lebih pantas untuk kekalahan. Kita menyaksikan sebelas orang anak muda berlari dalam peluh tiada henti. Sebenarnya mereka tengah bermain, itu bukan sebuah persoalan. Masalahnya mereka ternyata bermain bukan untuk dirinya sendiri. Mereka telah didaulat menjadi serdadu di ujung negeri, menyelesaikan semua persoalan yang mengerdilkan kita. Mengepakkan sayap garuda yang terperosok dalam timbunan permasalahan bangsa. Mereka tidak lagi bermain mengolah bola tetapi bermain roulette mengundi nasib bangsa. Dan tadi malam bukan lagi sepakbola.
Hidup adalah masalah kebiasaan. Bila kita terbiasa kalah maka kita akan jatuh demam ketika mendapatkan kemenangan. Demam penuh racauan tidak masuk akal. Sebelas pasang kaki yang mengolah kulit bundar dianggap pemecah semua persoalan. Politik hendak dimenangkan lewat tim bola. Rating televisi hendak dikatrol lewat berita bola. Dan orang-orang penting berpose seolah-olah mereka pahlawan yang membidani lahirnya pesepakbolaan nasional. Sebelas orang anak muda direnggut begitu saja dari lapangan hijau, tanpa pernah peduli dengan apa yang mereka inginkan. Diarak kesana sini, didoakan beribu mantera dan dicekoki dengan vodka berisi gandum politik. Kita, orang-orang yang kalah, telah merenggut kesempatan menang yang mereka miliki. Kita, orang-orang tidak peduli, telah menerbangkan mimpi tanpa seorang pun dari mereka punya sayap untuk mengejarnya. Beginilah cara orang-orang kalah menghadapi kemenangan, jatuh demam. Satu-satunya cara untuk sembuh adalah dengan menciptakan kekalahan. Hidup normal jauh lebih baik ketimbang berubah tanpa tahu arah.
Tanpa Chairil yang bisa ditemui, kita menemukan jawaban. Bahwasanya hidup kita tidak hanya sekedar menunda kekalahan tetapi lebih dari itu, kita hidup dalam kekalahan. Ini bukan persoalan angka-angka yang bisa dikumpulkan dan diperbandingkan, ini persoalan cara menghadapi hidup. Bahwa para pemenang tidak pernah mempersoalkan kalah atau menang dan para pecundang senantiasa mengukur segala sesuatunya dari menang dan kalah. Pemenang tahu, kekalahan adalah cara terbaik untuk mendapatkan pelajaran kehidupan. Pecundang hanya mengerti, kekalahan adalah akhir dari segalanya; suatu takdir yang menjadi kutukan satu bangsa. Kita tidak seharusnya menjadi pecundang.
Author
E.S. ITO lahir tahun seribu sembilan ratus delapan puluh satu. Ibunya seorang petani, bapaknya seorang pedagang.
Tanggap Bencana Merapi
1Banyak bencana yang melanda di Indonesia, salah satunya adalah bencana meletusnya gunung merapi. Korban pun berjatuhan dan banyak warga yang mengungsi karena kehilangan tempat tinggal.Mari tunjukkan kepedulian kita terhadap sesama, apalagi mereka adalah saudara kita seiman.
Anda dapat menyalurkan bantuan melalui kami dalam bentuk uang.
Bantuan dapat disalurkan ke:
- BNI UGM Yogyakarta - 0125792540 – a.n. Devi Novianti
- Bank Syari’ah Mandiri Cabang 094 Kaliurang Yogyakarta - 0947008920 – a.n. Ginanjar Indrajati Bintoro
- Bank Mandiri Cabang Yogyakarta Gedung Magister 13705 - 137-00-065.4879-2 – a.n. Bintoro
- BCA - 0130537146 – a.n. Hanif Nur Fauzi
Bagi anda yang telah berpartisipasi, harap mengkonfirmasikan diri kepada kami melalui sms dengan format sebagai berikut:
Nama/Alamat/TanggalKirim/JumlahUang/RekeningTujuan/Merapi
Ke nomor (salah satu):
- 0852 5205 2345 (Wiwit Hardi P.)
- 0856 4305 2159 (Nizamul Adli)
Atas partisipasi dan perhatian anda kami ucapkan jazaakumullahu khairaa..
-Donasi Peduli Umat-
Divisi Dakwah Masyarakat
Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari
sumber : www.muslim.or.id
Small Investment, Big Impact Activation
3Tadi baru dapet pengalaman baru pas mengikuti so called “interview”….
Baru tadi dapet pengalaman yang namanya “interview massal” yang di tutup dengan penawaran gaji yang kurang ideal (atau lebih tepatnya buruk), yang pastinya nanti membuat kita merasa bodoh (atau memang?) apabila kita mengambilnya… Ini masih premature conclusion sieh..
Semua berawal dari sebuah iklan yang tidak jelas yang dilanjutkan dengan aplikasi dan telepon untuk wawancara… Sempet reschedule, menyesuaikan dengan ijin “cuti” yang menyesuaikan juga dari kantor…
Begitu sampai di lokasi (ruko), langsung diarahkan ke lantai penthouse a.k.a. lantai paling tinggi di ruko itu.. Sudah ada bbrp orang yang berkumpul ternyata…
Lanjut dengan isi-isi formulir (yang notabene semua infonya ada di CV, malah lebih lengkap).
Eh, tiba-tiba si mbaknya (sebut saja mbak X) mengumpulkan semuanya dan mengumumkan adanya wawancara massal.
Kita potong sedikit disini. Saya rangkum dengan istilah “diskusi” pada waktu “wawancara massal” itu yang dimana sebenarnya sepertinya si mbak X ini “disuruh” untuk mengkail informasi dari calon pelamar mengenai pasar, metode marketing, good corporate governance, leader characteristics, human resources problems, etc. Tak lupa, interview massal ini juga diselingi dengan pengenalan karakter salah satu produk, yang terkesan sebagai hidden message dari mereka.
Seperti yang sudah saya tulis di atas tadi, acara ini ditutup dengan personal “salary offer” yang terasa seperti main-main saja… Lebih cocok untuk fresh graduate….
Loh, apa hubungannya sama Low Budget High Impact Activation yang lagi marak belakangan ini? Begini, udah mengerti kan cara “mereka” untuk “mengkail” informasi dari calon-calon pelamar tadi?
Untuk biaya pasang iklan, dengan good-deal di salah satu media iklan tenaga kerja terbesar di Indonesia hanya butuh di bawah 1 juta rupiah untuk paket 3 kali pasang dengan jangka waktu 2 bulan.
Biasanya dari pemasangan iklan bisa dapat hingga 100 pelamar, dari yang sesuai klasifikasi hingga yang main-main saja. Nah, kita coba panggil saja semuanya. Nah, kita dapet 100 orang yang tertarik membeli “kucing dalam karung” kan?
Informasi produk sekilas dengan proyeksi keuntungan dan sistem MLM yang ditawarkan menjadi titik puncak penawaran “interview massal” ini. Disinilah kunci dari semuanya itu.
Pertama, dengan harga alat yang murah dan penggambaran proyeksi keuntungan yang 5 kali lipat investasi dalam 1 kali produksi, siapa yang tidak tergiur?
Kedua, mereka mendapatkan informasi gratis untuk media promosi situs mereka tentang bagaimana seharusnya terjual dan strategi yang terkait untuk itu.
Ketiga, dengan word of mouth marketing yang lebih ampuh dari metode-metode marketing yang manapun, dapat menggaransi nanti terjadinya sales.
Ke empat, dengan melakukan kegiatan diatas, mereka sudah menjalankan “training” sales secara murah (kalau tidak mau dibilang gratis) kepada calon sales (baca: calon pelamar) mereka.
Dimana anda bisa mendapatkan team sales yang mau bekerja gratis untuk keuntungan suatu produk dengan biaya dibawah 5 juta (beserta dengan overhead cost tentunya) sebanyak kurang lebih 100 orang di jaman ini? Hari gini? Hehehehe…
Ini yang saya maksudkan dengan Low Budget High Impact Brand Activation “on the move”…. Cukup murah kan?
Ada opini lain mengenai hal ini?
Semoga tulisan ini dapat “mencerahkan” beberapa pembaca blog ini.
Monggo saya tunggu komentarnya.
Salam hangat dari Jakarta, Indonesia.
Ps:
Kalau memang ini yang mereka lakukan sebagai “the real viral marketing”, ini sudah benar. Tapi kalau ternyata ini cuma sebagai upaya test the water mereka untuk mencari cara lain, jelas mereka sudah mendapatkan lebih dari yang mereka inginkan.
Renungan Kamis
0Baru tadi dapet dimilis…
Seorang tukang kebun mencoba mengadakan penelitian sederhana. Ia menanam dua
tanaman yang sama pada lahan yang sama, yang membedakan hanyalah bagaimana cara
dia merawat tanaman tersebut. Tanaman yang pertama disirami secara rutin tiap
pagi sore, sedangkan tanaman yang kedua disirami dua hari sekali. Ketika tanaman
itu bertumbuh cukup besar, tiba waktunya untuk menguji kekuatan akar tersebut.
Perbedaannya cukup mencolok. Dibutuhkan waktu kurang dari dua menit untuk
mencabut akar dari tanaman yang pertama. Untuk tanaman yang kedua, dibutuhkan
waktu lebih lama yaitu empat menit untuk bisa mencabutnya!
Mengapa hal itu bisa terjadi? Tanaman yang pertama cukup dimanjakan dengan air
yang ia dapat dengan mudah, sehingga akarnya tidak berusaha mencari ke tanah
yang lebih dalam. Sedangkan tanaman yang kedua karena mendapat suplai air yang
lebih sedikit, maka mau tidak mau akarnya mencari ke sumber air sehingga
didapatinya akarnya jauh lebih kuat karena masuk lebih dalam ke tanah.
Cara Tuhan mendidik kita tak jauh beda dengan illustrasi tersebut. Bayangkan
saja jika Tuhan memanjakan kita dengan mengabulkan semua doa yang kita minta
atau tidak pernah mengijinkan penderitaan dan masalah hidup. Tentu ini akan
membuat kita jadi orang yang manja. Tak hanya itu, kita akan menjadi orang yang
cengeng. Akibatnya akar iman kita tidak kuat dan ketika permasalahan terjadi,
dengan mudahnya kehidupan kita tumbang!
Tuhan sangat mengasihi kita, itu sebabnya Dia selalu mendewasakan dan melatih
akar iman kita. Mengijinkan penderitaan, masalah, tekanan hidup atau keadaan
yang tidak menyenangkan, dengan harapan bahwa akar iman kita terus mencari
“Sumber” yang sejati. Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda memilih untuk menjadi
orang yang manja dengan akar yang rapuh, ataukah menjadi orang yang didewasakan
oleh Tuhan?
Tanpa masalah, kita hanya akan menjadi orang yang manja dan dengan akar iman
yang rapuh.
Semoga dapat menjadi pencerahan….
Woro Woro Internal VL5th
0Tanpa mengurangi ataupun menambahi isi:
Well, entah kesalahan ada di bagian mana, mungkin juga karena panitia
sebagian besar adalah angkatan 13, 14, 15 yang belum pernah mengadakan
suatu event besar, sehingga defisit dana awal mencapai 80 juta, lalu
direvisi 50 juta dan revisi terakhir 18 juta dengan melakukan
pemangkasan anggaran.aku prihatin dengan kondisi ini, beberapa kawan angaktan atas juga
mulai bergerak untuk mengumpulkan “bantingan” dari teman-teman
seangkatan.
kalo aku sendiri, datang dan tidak datang sudah mendaftar dan
membayar, itung-itung nyumbang lah…
tgl 27 desember itu aku natalan di rumah, nemenin ibuku, jadi ya 60%
sepertinya tidak datang, terkecuali ada hal lain.ya, ini sekedar panggilan saja untuk angkatan 5, apakah terketuk
hatinya untuk menyumbang atau tidak?
jika memang ada uang lebih, apa salahnya disumbangkan sedikit saja
untuk pavali, saya kasihan sama panitia (apalagi kalau sampai
defisit).
saat ini bukan berpikir salah siapa, karena toh acara tinggal 2 bulan lagi ..Bantuan yang diharapkan :
1. Mendaftarkan diri dan membayar biaya pendaftaran meskipun mungkin
tidak datang,
pendaftaran bisa melalui sms bisa melalui personal kontaknya :
http://reuni2009.exvanlith.net/pendaftaran/2. Memberikan donasi bantuan dengan mengirim ke rekening PAVALI :
037 277 2784 BCA KCU YOGYAKARTA a/n Frans Wisnu dan Heronimus Heru.
(tolong dituliskan berita acaranya misal : DONASI UNTUK REUNI AKBAR 2009)3. Memasang iklan di buku kenangan PAVALI, bisa menghubungi : Wisnu
(14) 085643253076Demikian keprihatinan ini, semoga saja masih ada kepedulian untuk
almamater kita. Terima kasih.salam,
Oktavianus Ken M.
Kami memohonkan bantuan dari rekan-rekan sesama angkatan 5 untuk membantu.
60 ribu, untuk acara KITA.
Acara KITA.
Tidak datang tidak masalah, yang penting kita telah membantu sekuat kita.
Untuk rekan-rekan lain, mohon ditambahkan sendiri tag-nya yak. Ada maksimalnya soalnya….
Terima kasih.
Y.B. Lelono
1 ONS BUKAN 100 GRAM
1PENDIDIKAN YANG MENJADI BOOMERANG.
Seorang teman saya yang bekerja pada sebuah perusahaan asing, di PHK akhir tahun lalu. Penyebabnya adalah kesalahan menerapkan dosis pengolahan limbah, yang telah berlangsung bertahun-tahun. Kesalahan ini terkuak ketika seorang pakar limbah dari suatu negara Eropa mengawasi secara langsung proses pengolahan limbah yang selama itu dianggap selalu gagal.
Pasalnya adalah, takaran timbang yang dipakai dalam buku petunjuknya menggunakan satuan pound dan ounce. Kesalahan fatal muncul karena yang bersangkutan mengartikan 1 pound = 0,5 kg. dan 1 ounce (ons) = 100 gram, sesuai pelajaran yang ia terima dari sekolah.
Sebelum PHK dijatuhkan, teman saya diberi tenggang waktu 7 hari untuk membela diri dgn. cara menunjukkan acuan ilmiah yang menyatakan 1 ounce (ons) = 100 g. Usaha maksimum yang dilakukan hanya bisa menunjukkan Kamus Besar Bahasa Indonesia yang mengartikan ons (bukan ditulis ounce) adalah satuan berat senilai 1/10 kilogram. Acuan lain termasuk tabel-tabel konversi yang berlaku sah atau dikenal secara internasional tidak bisa ditemukan.
SALAH KAPRAH YANG TURUN-TEMURUN.
Prihatin dan penasaran atas kasus diatas, saya mencoba menanyakan hal ini kepada lembaga yang paling berwenang atas system takar-timbang dan ukur di Indonesia , yaitu Direktorat Metrologi. Ternyata, pihak Dir. Metrologi pun telah lama melarang pemakaian satuan ons untuk ekivalen 100 gram. Mereka justru mengharuskan pemakaian satuan yang termasuk dalam Sistem Internasional (metrik) yang diberlakukan resmi di Indonesia. Untuk ukuran berat, satuannya adalah gram dan kelipatannya.
Satuan *Ons bukanlah bagian dari sistem metrik* ini dan untuk menghilangkan kebiasaan memakai satuan ons ini, Direktorat Metrologi sejak lama telah memusnahkan semua anak timbangan (bandul atau timbal) yang bertulisan “ons” dan “pound”.
Lepas dari adanya kebiasaan kita mengatakan 1 ons = 100 gram dan 1 pound = 500 gram, ternyata *tidak pernah ada acuan system
takar-timbang legal* atau pengakuan internasional atas satuan ons yang nilainya setara dengan 100 gram. Dan dalam sistem timbangan legal yang diakui dunia internasional, *tidak pernah dikenal adanya satuan ONS khusus ** Indonesia **.
Jadi, hal ini adalah suatu kesalahan yang diwariskan turun-temurun.
Sampai kapan mau dipertahankan ?
BAGAIMANA KESALAHAN DIAJARKAN SECARA RESMI ?
Saya sendiri pernah menerima pengajaran salah ini ketika masih dibangku sekolah dasar. Namun, ketika saya memasuki dunia kerja nyata, kebiasaan salah yang nyata-nyata diajarkan itu harus dibuang jauh karena akan menyesatkan
.
Beberapa sekolah telah saya datangi untuk melihat sejauh mana penyadaran akan penggunaan sistem takar-timbang yang benar dan
sah dikemas dalam materi pelajaran secara benar, dan bagaimana para murid (anak-anak kita) menerapkan dalam hidup sehari-hari.
Sungguh memprihatinkan.
Semua sekolah mengajarkan bahwa 1 ons = 100 gram dan 1 pound = 500 gram, dan anak-anak kita pun menggunakannya dalam kegiatan sehari-hari. “Racun” ini sudah tertanam didalam otak anak kita sejak usia dini.
Dari para guru, saya mendapatkan penjelasan bahwa semua buku pegangan yang diwajibkan atau disarankan oleh Departemen
Pendidikan Indonesia mengajarkan seperti itu. Karena itu, tidaklah mungkin Bagi para guru untuk melakukan koreksi selama Dep. Pendidikan belum merubah atau memberikan petunjuk resmi.
TANGGUNG JAWAB SIAPA ?
Maka, bila terjadi kasus-kasus serupa diatas, Departemen Pendidikan kita jangan lepas tangan. Tunjukkanlah kepada masyarakat kita terutama kepada para guru Yang mengajarkan kesalahan ini, salah satu alasannya agar tidak menjadi beban psikologis bagi mereka; *”acuan sistem timbang legal yang mana yang pernah diakui/ diberlakukan secara internasional, yang menyatakan bahwa : **1 ons adalah 100 gram, 1 pound adalah 500 gram.”?*
Kalau Dep. Pendidikan tidak bisa menunjukkan acuannya, mengapa hal ini diajarkan secara resmi di sekolah sampai sekarang ?
Pernahkan Dep. Pendidikan menelusuri, di negara mana saja selain Indonesia berlaku konversi 1 ons = 100 gram dan 1 pound = 500 gram? Patut dipertanyakan pula, bagaimana tanggung jawab para penerbit buku pegangan sekolah yang melestarikan kesalahan ini?
Kalau Dep. Pendidikan mau mempertahankan satuan *ons yang keliru* ini, sementara pemerintah sendiri melalui Direktorat
Metrologi melarang pemakaian satuan “ons” dalam transaksi legal, maka konsekwensinya ialah harus dibuat sistem baru timbangan Indonesia (versi Depdiknas).
Sistem baru inipun harus diakui lebih dulu oleh dunia internasional sebelum diajarkan kepada anak-anak. Perlukah adanya system timbangan Indonesia yang konversinya adalah 1 ons *(Depdiknas) * = 100 gram Dan 1 pound *(Depdiknas) * = 500 gram.?
Bagaimana “Ons dan Pound *(Depdiknas) *” ini dimasukkan dalam sistem metric yang sudah baku diseluruh dunia? Siapa yang mau pakai?.
HENTIKAN SEGERA KESALAHAN INI.
Contoh kasus diatas hanyalah satu diantara sekian banyak problema yang merupakan akibat atau korban kesalahan pendidikan. Saya yakin masih banyak kasus-kasus senada yang terjadi, tetapi tidak kita dengar. Salah satu contoh kecil ialah, banyak sekali ibu-ibu yang mempraktekkan resep kue dari buku luar negeri tidak berhasil tanpa diketahui dimana kesalahannya.
Karena ini kesalahan pendidikan, masalah ini sebenarnya merupakan masalah nasional pendidikan kita yang mau tidak mau harus segera dihentikan.
Departemen Pendidikan tidak perlu malu dan basa-basi diplomatis mengenai hal ini. Mari kita pikirkan dampaknya bagi masa depan anak-anak Indonesia . Berikan teladan kepada bangsa ini untuk tidak malu memperbaiki kesalahan.
Sekalipun hanya untuk pelajaran di sekolah, dalam hal Takar-Timbang- Ukur, Dep. Pendidikan tidak memiliki supremasi sedikitpun terhadap Direktorat Metrologi sebagai lembaga yang paling berwenang di Indonesia . Mari kitam ikuti satu acuan saja, yaitu Direktorat Metrologi.
Era Globalisasi tidak mungkin kita hindari, dan karena itu anak-anak kita harus dipersiapkan dengan benar. Benar dalam arti landasannya, prosesnya, materinya maupun arah pendidikannya. Mengejar ketertinggalan dalam hal kualitas SDM negara tetangga saja sudah merupakan upaya yang sangat berat.
Janganlah malah diperberat dengan *pelajaran sampah* yang justru bakal menyesatkan. Didiklah anak-anak kita untuk mengenal dan mengikuti aturan dan standar yang berlaku SAH dan DIAKUI secara internasional, bukan hanya yang rekayasa lokal saja. Jangan ada lagi korban akibat pendidikan yang salah. Kita lihat yang nyata saja, berapa banyak TKI diluar negeri yang berarti harus mengikuti acuan yang berlaku secara internasional.
Anak-anak kita memiliki HAK untuk mendapatkan pendidikan yang benar sebagai upaya mempersiapkan diri menyongsong masa depannya yang akan penuh dengan tantangan berat.
ACUAN MANA YANG BENAR?
Banyak sekali literatur, khususnya yang dipakai dalam dunia tehnik, dan juga ensiklopedi ternama seperti Britannica, Oxford , dll. *(maaf, ini bukan promosi)* menyajikan tabel-tabel konversi yang tidak perlu diragukan lagi.
Selain pada buku literatur, tabel-tabel konversi semacam itu Dapat dijumpai dengan mudah di-dalam buku harian/diary/ agenda
yang biasanya diberikan oleh toko atau produsen suatu produk sebagai sarana promosi.
*Salah satu* konversi untuk satuan berat yang umum dipakai SAH secara internasional adalah sistem avoirdupois/ avdp. (baca : averdupoiz).
1 ounce/ons/onza = 28,35 gram *(bukan 100 g.)*
1 pound = 453 gram *(bukan 500 g.)*
1 pound = 16 ounce *(bukan 5 ons)*
Bayangkan saja, bagaimana jadinya kalau seorang apoteker meracik resep obat yang seharusnya hanya diberi 28 gram, namun diberi 100 gram. Apakah kesalahan semacam ini bisa di kategorikan sebagai malapraktek?
Pelajarannya memang begitu, kalau murid tidak mengerti, dihukum!!!
Jadi, kalau malapraktik, logikanya adalah tanggung jawab yang mengajarkan. (*ini hanyagambaran/ ilustrasi salah satu akibat yang bisa ditimbulkan, bukan kejadian sebenarnya, tetapi dalam bidang lain banyak sekali terjadi)*
KALAU BUKAN KITA YANG MENYELAMATKAN – LALU SIAPA ?
Melalui tulisan ini saya ingin mengajak semua kalangan, baik kalangan pemerintah, akademis, profesi, bisnis/pedagang, sekolah dan orang tua dan juga yang lainnya untuk ikut serta mendukung penghapusan satuan “ons dan pound yang keliru” dari kegiatan kita sehari-hari.
Pengajaran sistem timbang dgn. satuan Ounce dan Pound seharusnya diberikan sebagai pengetahuan disertai kejelasan asal-usul serta *rumus konversi yang benar*. Hal ini untuk membuang kebiasaan salah yang telah melekat dalam kebiasaan kita, yang bisa
mencelakakan/ menyesatkan anak-anak kita, generasi penerus bangsa ini
.
LEMBAR PELENGKAP
TAKAR – UKUR – TIMBANG MENGIKUTI SISTEM METRIK YANG BERLAKU SEJAK THN *1799*.
*Kuantitas* *Satuan* *Simbol* *Keterangan*
Panjang
meter m bukan mtr.
Luas meter persegi m2
Isi/volume meter kubik m3
Berat gram g bukan gr.
Takaran liter 1 l = 1000cm3 (cc)
Suhu/temperature derajat Celcius oC
BEBERAPA SEBUTAN/AWALAN UNTUK FAKTOR PENGALI DALAM SISTEM METRIK
AWALAN FAKTOR PENGALI SIMBOL/SINGKATAN CONTOH
PEMAKAIAN
Giga 1.000.000.000 G
GHz.
Mega 1.000.000 M
MW
kilo 1.000 k
km
hecto 100 h
ha
deka
10 da
dam
deci 0,1 d
dm
centi 0,01 c
cm
milli 0,001 m
ml
micro 0,000.001
*m*
mF
dan seterusnya.
Dalam sistem metrik memang dikenal *1 are = 100 m2* khusus untuk ukuran tanah yang diakui sah secarainternasional.
*Untuk satuan ONS yang mengartikan kelipatan 100 g., apalagi POUND yang mengartikan kelipatan 500 g., tidak pernah ada didalam system metrik maupun non-metrik/imperial yang pernah diberlakukan sah secara internasional.
*= Di kutip tanpa permisi dari milis tetangga.
Update 04 Februari 2010:
Ada tambahan dari blog sivitas LIPI (Otorita Peneliti) tentang permasalahan ini, silahkan menuju ke link ini untuk mengetahui infonya lebih lanjut.








