Posts tagged Hal

Mystery Shopping

2

Pengertian dari mystery shopping akan saya copas dari beberapa situs:

Dari Wikipedia:

Mystery Shopper adalah alat yang digunakan oleh perusahaan riset pasar untuk mengukur kualitas layanan ritel atau mengumpulkan informasi spesifik tentang produk dan layanan. Mystery Shopper yang berperan sebagai pelanggan biasa melakukan tugas-tugas tertentu, misalnya membeli produk, mengajukan pertanyaan, keluhan, atau berperilaku mendaftar dengan cara tertentu – dan kemudian memberikan laporan rinci atau umpan balik tentang pengalaman mereka.

Mystery Shopper, praktek standar pada awal tahun 1940-an adalah sebagai cara untuk mengukur integritas karyawan. Peralatan yang digunakan untuk belanja misteri rentang penilaian dari kuesioner sederhana untuk menyelesaikan rekaman audio dan video. Banyak perusahaan Mystery Shopper sepenuhnya dikelola melalui Internet, sehingga Mystery Shopper dapat menggunakan Internet untuk mendaftar dan berpartisipasi, menemukan pekerjaan Mystery Shopper dan menerima pembayaran.

Tempat-tempat yang paling umum di mana Mystery Shopper digunakan adalah toko ritel, bioskop, restoran, rantai makanan cepat saji, bank, pompa bensin, dealer mobil, apartemen dan klub-klub kesehatan, serta fasilitas perawatan kesehatan. Di Inggris, Mystery Shopper semakin sering digunakan untuk memberikan umpan balik mengenai layanan pelanggan yang diberikan oleh otoritas lokal dan organisasi nirlaba, seperti asosiasi perumahan dan gereja

Cara kerjanya:

Ketika sebuah perusahaan klien menyewa sebuah perusahaan yang menyediakan jasa Mystery Shopping, sebuah survei model akan disusun dan berikan untuk mendefinisikan informasi apa saja dan faktor-faktor apa saja yang memerlukan perbaikan dari perusahaan klien yang ingin diukur, sebagai bagian dari proses berbelanja misteri. Ini kemudian disusun menjadi instrumen survei dan tugas yang dialokasikan untuk pembeli terdaftar dengan belanja misteri perusahaan yang bersangkutan.

Rincian dan informasi poin mencatat pembeli biasanya meliputi:

  • Jumlah karyawan di toko tersebut memasuki
  • Berapa lama waktu yang dibutuhkan sebelum misteri pembelanja disambut
  • Nama karyawan
  • Apakah atau tidak salam ramah, idealnya menurut ukuran objektif
  • Pertanyaan yang diajukan oleh para pembelanja untuk menemukan produk yang cocok
  • Jenis produk yang ditampilkan
  • Apakah atau bagaimana karyawan berusaha untuk menutup penjualan
  • Apakah karyawan mengundang para pembelanja untuk datang kembali ke toko
  • Kebersihan toko toko dan rekan
  • Kecepatan layanan
  • Sesuai dengan standar perusahaan yang berkaitan dengan pelayanan, menyimpan penampilan, dan perawatan / presentasi
  • Para pembeli sering diberikan instruksi atau prosedur untuk melakukan transaksi atipikal untuk membuat uji terhadap pengetahuan dan keterampilan pelayanan dari karyawan yang lebih ketat atau spesifik ke masalah layanan tertentu (dikenal dengan skenario). Misalnya, misteri pembeli di sebuah restoran mungkin berpura-pura mereka tidak tahan terhadap laktosa, atau toko pakaian misteri pembelanja bisa menanyakan tentang layanan pembungkusan hadiah. Tidak semua belanja misteri skenario termasuk pembelian.
  • Sementara pengumpulan informasi, pembeli biasanya berbaur ke toko yang dievaluasi sebagai pembeli biasa. Mereka mungkin kadang-kadang diminta untuk mengambil foto atau pengukuran, pembelian kembali, atau menghitung jumlah produk, kursi, orang-orang selama kunjungan. Sebuah timer atau stopwatch mungkin diperlukan. Di beberapa negara, misteri pembelanja juga harus mendapat izin sebagai detektif swasta untuk menjalankan beberapa tugas.

Dari sana, para pembelanja akan menyerahkan data yang dikumpulkan untuk perusahaan belanja Misteri yang bersangkutan. Perusahaan itu kemudian mereview dan menganalisa informasi ini, menyelesaikan statistik kuantitatif atau kualitatif data laporan untuk perusahaan klien. Hal ini memungkinkan pengukuran terhadap kriteria yang ditetapkan sebelumnya.

Nah, Sudah mengerti toh apa itu Mystery Shopping? Mari kita lihat daftar perusahaan Mystery shopper yang beroperasi/menerima aplikasi dari Indonesia:

  • http://www.frontlinefocus.com
  • http://www.aq-services.com
  • http://www.baidata.com
  • http://www.internationalservicecheck.com
  • http://doiop.com/MysteryShops

Silahkan daftar!! Selamat menjadi Pembelanja Misterius (Mystery Shopper)!

Mendidik Anak Tanpa Kekerasan

0

Artikel ini di copy paste dari sebuah Artikel di sini.

Seringkali orangtua menanyakan ke saya “Anak saya ini kalau diomongin susah nurutnya, bagaimana sih caranya agar anak nurut dengan orangtua? Apa musti dipukul dulu baru nurut?”.
Mendengar pertanyaan ini, seringkali saya jawab dengan singkat “Kenapa musti harus dengan kekerasan?”. Dan seringkali saya menceritakan kisah di bawah ini agar mereka mengerti apa maksudnya Mendidik Anak Tanpa Kekerasan.

Pada suatu hari Dr. Arun Gandhi, cucu Mahatma Gandhi, memberi ceramah di Universitas Puerto Rico. Ia menceritakan suatu kisah dalam hidupnya:

Waktu itu saya masih berusia 16 tahun dan tinggal bersama orangtua di sebuah lembaga yang didirikan oleh kakek saya, ditengah kebun tebu, 18 mil di luar kota Durban, Afrika Selatan. Kami tinggal jauh di pedalaman dan tidak memiliki tetangga. Tak heran bila saya dan dua saudara perempuan saya sangat senang bila ada kesempatan pergi ke kota untuk mengunjungi teman atau menonton bioskop.

Pada suatu saat, ayah meminta saya untuk mengantarkan beliau ke kota untuk menghadiri konferensi sehari penuh. Dan, saya sangat gembira dengan kesempatan itu. Tahu bahwa saya akan pergi ke kota, ibu memberikan daftar belanjaan yang ia perlukan. Selain itu, ayah juga meminta saya mengerjakan beberapa pekerjaan tertunda, seperti memperbaiki mobil di bengkel.

Pagi itu setiba di tempat konferensi, ayah berkata “Ayah tunggu kau di sini jam 5 sore. Lalu kita akan pulang ke rumah bersama-sama.”

Segera saja saya menyelesaikan pekerja-pekerjaan yang diberikan oleh ayah dan ibu. Kemudian, saya pergi ke bioskop. Wah, saya benar-benar terpikat dengan dua permainan John Wayne sehingga lupa akan waktu. Begitu melihat jam menunjuk pukul 17.30, langsung saya berlari menuju bengkel mobil dan buru-buru menjemput ayah yang sudah menunggu saya. Saat itu sudah hampir pukul 18.00!!!

Dengan gelisah ayah menanyai saya “Kenapa kau terlambat?”. Saya sangat malu untuk mengakui bahwa saya menonton bioskop sehingga saya menjawab, “Tadi, mobilnya belum siap sehingga saya harus menunggu.”

Padahal, ternyata tanpa sepengetahuan saya, ayah telah menelepon bengkel mobil itu. Dan ayah tahu kalau saya berbohong. Lalu ayah berkata, “Ada sesuatu yang salah dalam membesarkan engkau sehingga engkau tidak memiliki keberanian untuk menceritakan kebenaran pada ayah. Untuk menghukum kesalahan ayah ini, biarkanlah ayah pulang berjalan kaki sepanjang 18 mil dan memikirkannya baik-baik.”

Lalu dengan tetap mengenakan pakaian dan sepatunya, ayah mulai berjalan kaki pulang ke rumah. Padahal hari sudah gelap dan jalanan sama sekali tidak rata. Saya tidak bisa meninggalkan ayah, maka selama lima setengah jam, saya mengendarai mobil pelan-pelan di belakang beliau, melihat penderitaan yang dialami beliau hanya karena kebohongan bodoh yang saya lakukan.

Sejak itu saya tidak pernah berbohong lagi. Seringkali saya berpikir mengenai kejadian ini dan merasa heran. Seandainya ayah menghukum saya, sebagaimana kita menghukum anak-anak kita, maka apakah saya akan mendapat sebuah pelajaran mengenai mendidik tanpa kekerasan ? Kemungkinan saya akan menderita atas hukuman itu, menyadarinya sedikit dan melakukan hal yang sama lagi. Tetapi, hanya dengan satu tindakan tanpa kekerasan yang sangat luar biasa, sehingga saya merasa kejadian itu baru terasa kemarin. Itulah kekuatan bertindak tanpa kekerasan.

Ketika kita berhasil menancapkan suatu pesan yang sangat kuat di bawah sadar seorang anak maka informasi itu akan langsung mempengaruhi perilakunya. Itulah salah satu bentuk hypnosis yang sangat kuat. Apakah hal sebaliknya bisa terjadi? Ya bisa saja! Oleh karena itu kita perlu keyakinan penuh dalam melakukannya sehingga hasil positif yang kita inginkan pasti tercapai. Hal ini memerlukan pemikiran yang mendalam dan kesadaran diri yang kuat dan terlatih. Janganlah bertindak karena reaksi spontan belaka dan kemudian menyesal setelah melakukannya.

Jika kita mau berpikir sedikit ke belakang ke masa di mana anak-anak kita masih kecil sekali maka di masa itulah semua “bibit” perilaku dan sikap ditanamkan. “Bibit” perilaku dan sikap inilah yang kelak akan mewarnai kehidupan remaja dan dewasanya. Siapakah yang menanamkan “bibit” perilaku dan sikap itu untuk pertama kalinya? Ya anda pasti sudah tahu jawabnya, kitalah orangtua yang menanamkan segala macam “bibit” perilaku dan sikap itu.

Bagaimana jika sebagian besar waktu anak dihabiskan dengan pengasuhnya (baby sitter)? Ya berdoalah semoga pengasuh anak anda mempunyai pemikiran bijaksana dan bisa mempengaruhi anak anda secara positif. Berharaplah pengasuh anak (baby sitter) anda mengerti cara kerja pikiran dan mengerti bagaimana bersikap, berucap dan bertindak dengan baik agar anak anda memperoleh “bibit” sikap dan perilaku yang baik.

Seseorang bisa menjadi baik atau buruk pasti karena sesuatu “sebab”. Perilaku, ucapan sikap, dan pikiran yang baik atau buruk hanyalah suatu rentetan “akibat” dari suatu “sebab” yang telah ditanamkan terlebih dahulu. Mungkinkah terjadi “akibat” tanpa “sebab”? Mungkinkah anak kita berbohong tanpa sebab, mungkinkah anak kita “nakal” tanpa sebab, mungkinkah anak kita rewel tanpa sebab? Sebagai orangtua kita wajib mencari tahu apa penyebabnya. Tidaklah pantas sebagai orangtua kita langsung bereaksi spontan begitu saja tanpa memikirkan apa yang baru saja kita perbuat. Bukankah ini akan memberi contoh baru bagi anak kita tentang bagaimana bertindak dan bersikap?

Sewaktu kita mempunyai anak maka kita menjadi orangtua, tetapi kita tidak pernah punya pengalaman menjadi orangtua. Kita mempunyai pengalaman menjadi anak. Jadi kita harus mendidik diri kita sendiri dengan belajar dari anak-anak. Bukan belajar dari apa yang dilakukan orangtua pada kita. Ingatlah perasaan sewaktu kita masih menjadi anak-anak. Amati mereka dan tanggapilah dengan penuh perhatian apa yang mereka inginkan. Pengharapan, perlakuan dan pengakuan seperti apa yang kita inginkan dari orangtua yang tidak pernah terpenuhi?

Perlakukan anak-anak seperti kita ingin diperlakukan! Jangan perlakukan anak-anak seperti apa yang dilakukan orangtua pada kita.

Go to Top